Posted by: hera | 13 February 2009

Review Blog Ditunda

Maaf….  Permintaan maaf ini ditujukan untuk seluruh penonton konser Rihanna (eh salah yaa!)- maksudnya untuk seluruh mahasiswa saya yang telah sabar menanti  (dan dijanjikan) untuk melihat review blog tugas mereka di sini.

Berbeda dengan Rihanna (lagi) yang terpaksa membatalkan konsernya (yang kedua kalinya!) karena terlibat pertengkaran dan dipukuli kekasihnya (mengutip Ryan Seacrest dari E Entertainment ya), saya terpaksa membatalkan review blog (untuk ketiga atau keempat kalinya ya? hehehe) karena ‘terpukul’ oleh wabah flu berat yang menulari orang-orang di sekitar saya :-(

Mohon kesabarannya untuk kalian semua yaa… insyaAllah Senin akan saya upload di sini :-)

Terimakasih atas perhatiannya :-)

Posted by: hera | 8 February 2009

A Weekend Getaway

Sesekali, kita butuh me-recharge energi agar tetap fokus dan ‘fresh’ menghadapi rutinitas pekerjaan.  Berlibur, merupakan cara ampuh untuk membantu kita memperoleh suntikan energi baru :-)

Minggu lalu, saya dan seorang sahabat- kami sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelumnya, maklumlah, selaku pekerja dengan bujet liburan terbatas, harus menyisihkan dana dan merancang liburan ini seefisien mungkin- menghabiskan akhir pekan di Singapura. Tanpa keluarga- orangtua, pasangan, anak- jadi betul-betul girl’s time out :-p

Kebetulan sahabat saya ini memang menjalani check-up rutin di salah satu RS terbesar di sana, dan menawari saya untuk menemani sekalian liburan. Artinya, saya tinggal membayar tiket dan transportasi plus konsumsi, karena biaya akomodasi gratisss.. Yeah, Singapore here I come :-)

Bertekad untuk tidak tergoda dengan atraksi belanja-belanji (nyaris mustahil, secara atraksi wisata utama yang ditawarkan di sana adalah surga belanja)- kecuali belanja buku (ini dikategorikan belanja positif, huahehaha)- saya membuat beberapa alternatif tujuan yang ‘mendidik’ *gaya deh!*, semisal kunjungan ke museum nasional dan seni (jangan mengerutkan kening dulu sebelum mendengar ceritanya), kebun botanik dan tentunya, toko buku :-p

Berbekal waktu 3 hari, kami memutuskan untuk mengambil penerbangan sepagi mungkin- maksudnya sih supaya gak wasting time- tapi ternyata berbalik menjadi senjata makan tuan, karena pesawat dijadwalkan berangkat pukul 7.55 pagi, which means we have to get up extremely early and reached the airport at 6 :-)

Dengan mata masih sayup-sayup melek, akhirnya kami tiba di bandara dan melakukan pengecekan bagasi dan imigrasi. Pengalaman ke luar negeri pertama setelah punya NPWP ternyata sangat menyenangkan, karena saya tak perlu mengeluarkan dana lebih untuk fiskal (hore! bisa buat belanja dong! eh katanya gak mau belanja, hihihi). Dan proses bebas fiskal ini ternyata jauh dari ribet seperti bayangan saya. Di loket pembayaran bebas fiskal, kita tinggal menunjukkan kartu NPWP dan paspor, and that’s it. Setelah urusan imigrasi beres, kami melenggang ke lounge yang disediakan salah satu provider kartu kredit, dan menikmati sarapan. Yang lebih menyenangkan lagi, untuk fasilitas ini kita tak perlu membayar mahal, malah bisa dibilang nyaris gratis. Hanya dipotong 250 poin dari kartu kredit (dan selama ini poin-poin itu useless, gak pernah ditukar). Not bad :-)

Saat penerbangan- kami mengambil Lion Air karena telat booking tiket maskapai lain dan ini adalah salah satu penerbangan termurah- saya agak surprais melihat fasilitas pesawat Boeing 737 mereka (walaupun gak kaget2 amat sih). Kursi kulit birunya keras (saya langsung teringat bus Patas) dan jarak antar kursi sempit banget (masih bagusan kursi Busway, sumpah), no snack, dan pas lepas landas (juga pas mendarat) lumayan kasar. Murah kok mau nyaman, gitu kata teman saya :-p Belum cukup, pas di pinggir bingkai jendela pesawat ada tulisan coretan tangan (pakai pulpen), bunyinya:  “Masih ada mu’jijat di sini…” Ya ampyunnnn… ini pesawat apa metro mini sih?

Setelah mendarat di Changi, kami segera menuju hotel untuk check-in, dan segera menyeberang ke Raffles Hospital (hotel persis di seberang RS). Agenda hari pertama memang hanya untuk urusan cek kesehatan, barulah di hari kedua dan ketiga kami bebas berkeliaran :-)

Hari kedua kami memulai ‘petualangan mendidik’ dengan mengunjungi National Museum of Singapore. Awalnya sang teman agak enggan untuk berkunjung ke museum (mungkin terbayang ruangan berbau apek, suram dan artefak kuno) namun setelah saya berpromosi bahwa museum ini lain daripada yang lain, ia setuju. Museum nasional negara Singa ini terletak di Stamford Street, sebetulnya gak jauh-jauh amat dari Orchard (secara Singapura memang cuma seluas kota). Bangunan luarnya secara fisik gak jauh beda dengan museum nasional kita. Putih, dengan pilar-pilar besar menyangga bangunan besar tersebut. Namun begitu menjejakkan kaki ke dalam, baru terasa bedanya. Museum ini dibagi menjadi beberapa galeri. Salah satunya Singapore History Gallery dan Singapore Living Galleries yang berisikan galeri lifestyle dari waktu ke waktu, seperti galeri fashion (quite impressive!), galeri film dan wayang, galeri fotografi dan food (yes, that’s fun) yang kesemuanya terletak di lantai 2. Sementara di bawah, ada galeri seni dan pameran instalasi.

Dengan membayar tiket masuk seharga 10 Sing dolar, kita bisa menyaksikan seluruh galeri ini. Yang patut dicatat dan  diacungi jempol adalah Singapore History Gallery. Dibanding Living Galleries yang content-nya lebih menarik (fashion, film, food, photography), sebagian orang mungkin akan enggan untuk menonton sejarah. Tapi jangan salah, jika Anda mengunjungi History Gallery ini, dijamin 100% Anda akan lupa bahwa sejarah kerap membuat mengantuk. Dibekali earphone dan piranti multimedia yang mirip Ipod raksasa- ada layar dan tombol2 rewind, play etc, sejarah menjadi tontonan yang amat mengasyikkan. Pengunjung serasa digiring masuk ke ruangan-ruangan gelap dengan potongan2 film di sekeliling kita berputar- sementara companion (sebutan untuk si Ipod raksasa) mempersilahkan kita untuk memencet salah satu tombol sesuai dengan nomor yang tertera di lantai. Jadi, ada path yang bisa kita ikuti berupa nomor-nomor di lantai, dan kita harus memencet tombol companion sesuai angka di lantai tersebut, dan mengalirlah cerita di telinga kita (ada opsi bahasa Melayu dan Inggris) diiringi dengan gambar-gambar yang seakan berputar ‘hidup’ di sekeliling kita (dengan layar2 komputer wall to wall). Seolah-olah sejarah hidup dan berputar di sekeliling kita. Luarbiasa indah. Dan menakjubkan. That history really comes alive in this museum.

National Museum of Singapore (her)

National Museum of Singapore (her)

Puas menikmati tontonan yang sangat menarik tadi, kami beranjak ke tujuan selanjutnya: toko buku :-) Maksud hati sih mau ke Kinokuniya dan Borders sekalian, tapi ternyata di toko pertama kami terkejut-kejut dengan diskon 20% for all books. Pantesan antrinya kayak antrian beras di kasir :-p Setelah sekitar 4 jam kami menghabiskan waktu mengubek buku, dan ‘kalap’ karena masing-masing menenteng 2 tas belanjaan yang berat dengan buku, hehehe. . Mumpung diskon, kapan lagi ;-) Sejenak kami beristirahat di hotel, sebelum memutuskan untuk late night shopping di Mustafa Centre- don’t remind me about my first attempt not to shop- I simply cannot resist the urge when it comes to books and Mustafa- LoL

Mustafa ini ajaib banget. Bukan hanya dari namanya aja yang ‘ajaib’, tapi tempatnya juga. Bagaikan jin dalam botol- dari luar, pengunjung takkan menyangka bahwa toko serba ada yang kelihatannya biasa banget dan agak buluk ini (sekilas mirip Sarinah Thamrin deh) ternyata menyimpan ‘harta karun’ yang luar biasa bagi para bargain hunters- kayak saya gini, doyannya cari barang yang murmer- kalau bisa murah, dapet banyak, lebih bagus lagi, hehe.

Toserba ini berada di area Little India- Syed Alwi Rd- dan mayoritas pegawainya orang India. Ada sekitar 5 lantai (kayaknya 7 ditambah B1 dan B2)- dan buka 24 jam, non-stop. Kayak apotik, bedanya ini gak cuma jualan obat tapi semua barang- you name it- ada. Supermarket? Ada. Buku? Banyak. Jam- asli dan palsu? Ada. Parfum? Kosmetik? Elektronik? Keperluan olahraga? Baju (gak bermerek yaa tapinyaa..)? Barang2 rumah tangga? Semuaaaa adaaaaa…. bayangkan betapa ajaibnya toko ini… dan murmer, sumpe dehhh :-p Dan yang lucu, ada aja orang yang liat2 mesin cuci jam 2 pagi (saat kami berbelanja), anak2 balita dibawa ortunya belanja (anehnya kok gak ngantuk ya?) dan toko ini rame terus. Ibu2 sibuk dorong troli belanjaan penuh makanan dan sayur-mayur jam 2 pagi. Berasa bukan begadang malem2 deh :-)

mustafa

Akhirnya, akhir pekan yang menyenangkan ini ditutup dengan mengunjungi pusat perbelanjaan furnitur asal Swedia, Ikea. Pas terakhir kali ke Singapura, saya gak sempat mampir di toko yang ngetop dengan pernak-pernik interior minimalis dan modern ini. Jadi, sebelum ke bandara, kami menyempatkan diri (wajib hukumnya!) untuk mampir, dengan catatan (dan bersumpah) takkan tergoda untuk beli barang-barang yang bakal menyulitkan bawaan kami :-p Menyenangkan sekali melihat pernak-pernik interior yang lucu dan minimalis- kotak penyimpanan barang dari kardus tapi sekilas mirip kotak antik, seprai dan selimut warna-warni yang menggoda mata- dan akhirnya kami hanya bisa menelan ludah melihat lukisan2 modern yang keren banget untuk dipajang di ruang duduk namun bakal menyusahkan kalau kami tetap ngotot untuk membawanya. Nasib :-(

Tapi toh, saya tetap tak bisa menahan godaan untuk menyambar selimut bergambar mata yang lucu mengintip di ujung, kotak organiser yang antik tadi (alih-alih mengambil satu, saya membeli dua), handuk warna-warni, wadah dari rotan yang bisa dilipat, spidol yang ujungnya bisa jadi stempel (mulai gak penting nih), bib (slabbertje bahasa belandanya atau tadah iler bahasa indon) warna ceria satu set untuk oleh-oleh, buku interior yang lucu dan inspiratif banget. Huaaaaa… kok jadi banyak yaaa :-(

ada frozen food merek ABBA di Ikea... ada hubungan sama grup musiknya gak ya? (her)

ada frozen food merek ABBA di Ikea… ada hubungan sama grup musiknya gak ya? (her)

Posted by: hera | 9 October 2008

Puasa Dipendam, Lebaran Balas Dendam

Familiar dengan kata-kata di atas? Bisa jadi Anda pernah melihat  iklan billboard A Mild versi puasa saat melintas di seputaran Senayan. Uniknya, jika di siang hari papan iklan ini bergambar piring kosong, namun ketika Anda melewatinya malam hari, dengan permainan cahaya lampu dan tinta khusus, piring tersebut dipenuhi makanan lezat yang menggoda selera.

iklan a mild di siang hari

iklan a mild di malam hari

Iklan-iklan A Mild memang terkenal dahsyat dengan tagline-nya. Tak terkecuali yang satu ini, walaupun sudah cukup lama (dipasang pas puasa taun lalu, cmiiw). Tagline inilah yang menggambarkan kondisi saya saat ini (dan mungkin juga orang lain yang sama rakusnya dengan saya) :-p

Nafsu makan yang sempat tertahan dan mengikis beberapa senti lapisan lemak di tubuh saat puasa, kembali menggila begitu lebaran tiba. Menyantap ketupat yang buras disiram kuah santan opor ayam, dilengkapi dengan rendang kering yang pedas menggigit plus sambal goreng (minus ati karena saya gak doyan), setelah sebelumnya disuguhi kue-kue kering (favorit saya: kaastengels yang dipanggang dengan mentega wijsman plus keju edam) serta soft drink dingin yang juga punya andil dalam menumpuk kalori dalam tubuh. Dan ritual ini berulang beberapa kali dalam sehari, tergantung berapa tempat yang kita singgahi saat bersilaturahmi :-D

menu lebarab, sumber: sedap-sekejap.com

Alhasil, tak hanya bobot tubuh yang bertambah mekar, tapi badan juga ketimpaan satu penyakit langganan yang kerap menyambangi saya di saat kebiasaan makan sedang ‘gak beres’ (entah itu kurang makan atau kelebihan makan): perut kembung dan mual. Atau, istilah kerennya, funny tummy. Disebut funny karena perut rasanya aneh, kembung-kembung gak jelas, dan seringkali dengan tidak sopannya mengeluarkan gas yang kadar baunya, well, dari tidak berbau sampai taraf paling berbahaya, memingsankan mahluk hidup :-p

Fenomena funny tummy ini seringkali saya alami, mungkin karena golongan darah saya kebetulan 0 (kalau katanya Peter Adamo, penulis buku diet golongan darah yang laris manis bak kacang goreng itu, kaum O-ers ini memang paling rentan untuk urusan perut dan pencernaan). Lha kebetulan lagi juga (sebagai orang Indonesia yang hobi sekali dengan hal-hal yang serba kebetulan, kalo gak kebetulan pun dibetul-betulkan pula) saya pernah ikutan dipijat akupunktur, karena kebetulan (lagi) diajak seorang teman yang sedang berobat. Menurut si sinshe tersebut, saya tak punya masalah kesehatan yang berarti (alhamdulillah!) - hanya gangguan perut dan lambung yang sesekali bermasalah. Klop dengan penelitian diet golongan darah tadi, yang walaupun menurut beberapa kalangan medis, masih diragukan keakuratannya.

Balik lagi ke soal lebaran tadi. Sebetulnya gak cuma soal makan, untuk hal-hal lain pun kita mungkin cenderung melakukan upaya balas dendam. Seperti jor-joran menghabiskan jatah THR misalnya, padahal utang kartu kredit masih menggunung (hehe). Atau seperti yang diceritakan salah satu kerabat, ketika menjelang lebaran, salah seorang sepupu menelepon dan meminta ‘THR’ berhubung anak-anaknya belum dibelikan baju baru. Padahal, untuk biaya sehari-hari dan sekolah si anak saja, masih kembang-kempis. Hmmm..

Posted by: hera | 23 July 2008

Bad Day

Once in a while, we have to face a day with cranky and not-so-bright moods. That’s what happened with me today :-(

Mungkin karena lagi PMS (pre-menstrual syndrome, fyi) -siklus sebelum datang bulan ini memang kerap dituding sebagai ‘biang kerok’ yang menyebabkan hormon-hormon dalam tubuh perempuan menjadi tidak stabil dan akhirnya memunculkan gejala-gejala yang tidak menyenangkan, such as:

- sakit perut (mules-mules gak jelas)

- insomnia (kalo gak ngapain saya begadang jam 2 pagi begini nulis blog sambil nonton Friends di tipi kabel)

- caffeine addicted (dan bayar secangkir kopi latte dengan harga overpriced di sebuah kedai kopi waralaba… meski enak, teteup aja… muahal!)

- Mood swings gila-gilaan (marah2 gak jelas juntrungannya, sensi berlebihan, dan akibatnya org2 lain kena getahnya… maappppkan sayaa, hiks)

Dimulai dengan para mahasiswa yang sejak 3 hari belakangan ‘meneror’ saya. Berhubung sudah menjelang deadline mereka untuk mengejar sidang skripsi, dimulailah perburuan tiada akhir mengejar dosen pembimbing. Yang gak pernah nongol, tiba2 muncul dengan segepok kertas-kertas berisikan bab awal hingga penutup.

“Ma’am, jadi kira-kira kapan saya bisa maju sidang?” (padahal skripsi masih belang-belonteng)

“Revisinya bisa kelar kapan ya Ma’am? Saya tungguin deh sekarang.. “(gak bisaaaaa)

“Kalo sore ini gimana? Kalo gak saya tungguin deh sampe malem.” (gubraks!!!!)

Dengan kondisi hormon yang gak stabil begini, rasanya kepingin deh makan orang, huaaaa… Belum habis urusan yang satu, datang lagi sumber kekesalan lain. Ketika saya harus meminta bagian humas untuk membantu menyiapkan penghargaan untuk kompetisi cerita foto mahasiswa, lagi-lagi saya harus menghadapi momen yang menyebalkan.

“Ada apa nih dateng ke sini-sini?” (mungkin maksud si staf ini becanda kali ya, tapi secara saya lagi sensitif dan ngerasa gak akrab2 banget sama ni orang, saya langsung syok terapi seperti dikasih kejutan listrik).

“Ehehe… mau minta tolong dibikinin sertifikat buat mahasiswa, gini nih draft-nya..” (saya menyodorkan draft teks sertifikat).

“Lain kali kalau ke sini kasih yang udah komplit ya,” si staf dengan muka jutek mengomentari draft saya.

Sumpah, muke saya pasti udah melongo dengan ekspresi jaw-dropping ala pilem2 kartun. Selama beberapa tahun belakangan saya mengabdikan diri di institusi pendidikan ini, belum pernah saya menghadapi orang macem begini. Jangan2 dikira saya mahasiswa??? Mungkin saya harus berpikir ulang untuk berpenampilan ala dosen tulen dengan setelan blazer berwarna senada membosankan- bukannya rok bunga-bunga dengan cardigan yang saya pikir bakal mencerahkan mood, ternyata malah (mungkin) berefek samping tidak menyenangkan :-(

Bahkan, setelah akhirnya si staf bersikap manis pada saya (gak tau kenapa bisa begitu, mungkin ngeh bahwa saya ternyata bukan mahasiswa), tidak juga memperbaiki mood yang sudah keburu jelek. Sampai akhirnya saya melewati sisa hari yang menyebalkan (bahkan di perjalanan pulang pun sempat naik darah, gara2 ada mas-mas kantoran berdasi dengan sedan keren mengklakson mobil saya gila-gilaan)- langsung deh saya buka kaca dan memaki-maki, huhuhu- gak saya banget deh pokoknya :-p

Mudah-mudahan besok si PMS sudah menghilang dan saya tidak lagi jadi monster yang menyeramkan buat orang-orang di sekitar :-p

Posted by: hera | 16 July 2008

Bajaj Ngebut!

Kenapa rata-rata supir bajaj doyan ngebut? Apakah mereka punya impian terpendam untuk jadi the next Schumi atau Kimi (Raikkonen)? Yang jelas, demi setoran beberapa puluh ribu rupiah, mereka tak segan-segan beraksi melibas tikungan layaknya Kimi dan Schumi di lap-lap akhir. Bikin sport jantung dan lebih menyeramkan dibanding nonton film horor, huhuhu…

Kejadian ini saya alami kemarin, ketika nebeng mobil sahabat saya sepulang dari kampus. Berhubung searah, biasanya saya menumpang si teman hingga Hero Cipinang, lalu nyambung lagi naik bajaj. Saking lumayan seringnya menempuh rute tersebut, saya lantas punya 2 langganan ‘abang bajaj’ yang setia mengantar. Yang pertama, bapak2 usia 50-an, dengan pembawaan kalem dan gaya mengemudi lebih ’safe’ dibanding rekannya. Yang kedua, lebih muda dan tukang ngebut (bukan jago ngebut, yang ngebut tapi jago).

Begitu turun di Hero dan jalan menuju deretan bajaj yang telah menanti, di luar harapan, si abang kedua-lah yang sudah menyambut dengan senyum ceria.

“Eh si eneng, tumben udah lama gak keliatan…” sembari membukakan pintu bajaj-nya.

“Iya bang, udah jarang nih pulang malem… eh tapi jangan ngebut2 ya bang, biar lambat asal selamat..”

“Beres lah neng, naek ajah..”

Kirain si abang udah insyaf dan paham perintah saya, ternyata…. baru keluar dari pelataran parkir aja doi langsung muter balik 180 derajat gak liat2, nyaris sukses disamber motor lewat! Huaaaa… serangan jantung pertama… yang berlanjut kedua (ketemu puteran main ngebut aja), ketiga (nerobos lintasan rel kereta api yang udah bunyi ‘ting tong ting tong), dan seterusnya (dah gak inget lagi krn sibuk komat-kamit berdoa), sampai 20 menit kemudian tiba di rumah. Tobaatttttt… Perasaan selama pengalaman jadi jurnalis olahraga otomotif dan pernah dibawa ngebut muter2in sirkuit bareng pembalap gak gitu2 amat ngerinya :-p

The moral of the story:

-Lain kali cari abang bajaj yang lebih tua (biasanya lebih ‘wise’ walopun gak jamin juga)

-Dikasih peringatan sebelum naik, “Bang kalo ngebut, saya turun aja ya dan gak mo bayar” (ati2 digaplokin abangnya)

-Jangan pulang malem2 dan turun di Hero Cipinang :-p

Caption: Bajaj, oh Bajaj

http://igogreen.files.wordpress.com/2008/03/800px-jakarta_bajaj.jpg

Posted by: hera | 29 June 2008

Welcome to Summer!

Welcome to my blog site :-)

Summer is one of the top on my favorite list. It’s the warmest time of the year, where the sun bring the nicest weather, the sweet-scented breeze, laughter, smile and warmest thought in everyone (and inspire me most !)

Club 8 - Summer Songs

Caption: One of my most favorite album of all time, “Summersongs” by Club 8

And so do I hope with my writings ;-)

Well, enjoy then…

Categories