Sesekali, kita butuh me-recharge energi agar tetap fokus dan ‘fresh’ menghadapi rutinitas pekerjaan. Berlibur, merupakan cara ampuh untuk membantu kita memperoleh suntikan energi baru
Minggu lalu, saya dan seorang sahabat- kami sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelumnya, maklumlah, selaku pekerja dengan bujet liburan terbatas, harus menyisihkan dana dan merancang liburan ini seefisien mungkin- menghabiskan akhir pekan di Singapura. Tanpa keluarga- orangtua, pasangan, anak- jadi betul-betul girl’s time out :-p
Kebetulan sahabat saya ini memang menjalani check-up rutin di salah satu RS terbesar di sana, dan menawari saya untuk menemani sekalian liburan. Artinya, saya tinggal membayar tiket dan transportasi plus konsumsi, karena biaya akomodasi gratisss.. Yeah, Singapore here I come
Bertekad untuk tidak tergoda dengan atraksi belanja-belanji (nyaris mustahil, secara atraksi wisata utama yang ditawarkan di sana adalah surga belanja)- kecuali belanja buku (ini dikategorikan belanja positif, huahehaha)- saya membuat beberapa alternatif tujuan yang ‘mendidik’ *gaya deh!*, semisal kunjungan ke museum nasional dan seni (jangan mengerutkan kening dulu sebelum mendengar ceritanya), kebun botanik dan tentunya, toko buku :-p
Berbekal waktu 3 hari, kami memutuskan untuk mengambil penerbangan sepagi mungkin- maksudnya sih supaya gak wasting time- tapi ternyata berbalik menjadi senjata makan tuan, karena pesawat dijadwalkan berangkat pukul 7.55 pagi, which means we have to get up extremely early and reached the airport at 6
Dengan mata masih sayup-sayup melek, akhirnya kami tiba di bandara dan melakukan pengecekan bagasi dan imigrasi. Pengalaman ke luar negeri pertama setelah punya NPWP ternyata sangat menyenangkan, karena saya tak perlu mengeluarkan dana lebih untuk fiskal (hore! bisa buat belanja dong! eh katanya gak mau belanja, hihihi). Dan proses bebas fiskal ini ternyata jauh dari ribet seperti bayangan saya. Di loket pembayaran bebas fiskal, kita tinggal menunjukkan kartu NPWP dan paspor, and that’s it. Setelah urusan imigrasi beres, kami melenggang ke lounge yang disediakan salah satu provider kartu kredit, dan menikmati sarapan. Yang lebih menyenangkan lagi, untuk fasilitas ini kita tak perlu membayar mahal, malah bisa dibilang nyaris gratis. Hanya dipotong 250 poin dari kartu kredit (dan selama ini poin-poin itu useless, gak pernah ditukar). Not bad
Saat penerbangan- kami mengambil Lion Air karena telat booking tiket maskapai lain dan ini adalah salah satu penerbangan termurah- saya agak surprais melihat fasilitas pesawat Boeing 737 mereka (walaupun gak kaget2 amat sih). Kursi kulit birunya keras (saya langsung teringat bus Patas) dan jarak antar kursi sempit banget (masih bagusan kursi Busway, sumpah), no snack, dan pas lepas landas (juga pas mendarat) lumayan kasar. Murah kok mau nyaman, gitu kata teman saya :-p Belum cukup, pas di pinggir bingkai jendela pesawat ada tulisan coretan tangan (pakai pulpen), bunyinya: “Masih ada mu’jijat di sini…” Ya ampyunnnn… ini pesawat apa metro mini sih?
Setelah mendarat di Changi, kami segera menuju hotel untuk check-in, dan segera menyeberang ke Raffles Hospital (hotel persis di seberang RS). Agenda hari pertama memang hanya untuk urusan cek kesehatan, barulah di hari kedua dan ketiga kami bebas berkeliaran
Hari kedua kami memulai ‘petualangan mendidik’ dengan mengunjungi National Museum of Singapore. Awalnya sang teman agak enggan untuk berkunjung ke museum (mungkin terbayang ruangan berbau apek, suram dan artefak kuno) namun setelah saya berpromosi bahwa museum ini lain daripada yang lain, ia setuju. Museum nasional negara Singa ini terletak di Stamford Street, sebetulnya gak jauh-jauh amat dari Orchard (secara Singapura memang cuma seluas kota). Bangunan luarnya secara fisik gak jauh beda dengan museum nasional kita. Putih, dengan pilar-pilar besar menyangga bangunan besar tersebut. Namun begitu menjejakkan kaki ke dalam, baru terasa bedanya. Museum ini dibagi menjadi beberapa galeri. Salah satunya Singapore History Gallery dan Singapore Living Galleries yang berisikan galeri lifestyle dari waktu ke waktu, seperti galeri fashion (quite impressive!), galeri film dan wayang, galeri fotografi dan food (yes, that’s fun) yang kesemuanya terletak di lantai 2. Sementara di bawah, ada galeri seni dan pameran instalasi.
Dengan membayar tiket masuk seharga 10 Sing dolar, kita bisa menyaksikan seluruh galeri ini. Yang patut dicatat dan diacungi jempol adalah Singapore History Gallery. Dibanding Living Galleries yang content-nya lebih menarik (fashion, film, food, photography), sebagian orang mungkin akan enggan untuk menonton sejarah. Tapi jangan salah, jika Anda mengunjungi History Gallery ini, dijamin 100% Anda akan lupa bahwa sejarah kerap membuat mengantuk. Dibekali earphone dan piranti multimedia yang mirip Ipod raksasa- ada layar dan tombol2 rewind, play etc, sejarah menjadi tontonan yang amat mengasyikkan. Pengunjung serasa digiring masuk ke ruangan-ruangan gelap dengan potongan2 film di sekeliling kita berputar- sementara companion (sebutan untuk si Ipod raksasa) mempersilahkan kita untuk memencet salah satu tombol sesuai dengan nomor yang tertera di lantai. Jadi, ada path yang bisa kita ikuti berupa nomor-nomor di lantai, dan kita harus memencet tombol companion sesuai angka di lantai tersebut, dan mengalirlah cerita di telinga kita (ada opsi bahasa Melayu dan Inggris) diiringi dengan gambar-gambar yang seakan berputar ‘hidup’ di sekeliling kita (dengan layar2 komputer wall to wall). Seolah-olah sejarah hidup dan berputar di sekeliling kita. Luarbiasa indah. Dan menakjubkan. That history really comes alive in this museum.

National Museum of Singapore (her)
Puas menikmati tontonan yang sangat menarik tadi, kami beranjak ke tujuan selanjutnya: toko buku
Maksud hati sih mau ke Kinokuniya dan Borders sekalian, tapi ternyata di toko pertama kami terkejut-kejut dengan diskon 20% for all books. Pantesan antrinya kayak antrian beras di kasir :-p Setelah sekitar 4 jam kami menghabiskan waktu mengubek buku, dan ‘kalap’ karena masing-masing menenteng 2 tas belanjaan yang berat dengan buku, hehehe. . Mumpung diskon, kapan lagi
Sejenak kami beristirahat di hotel, sebelum memutuskan untuk late night shopping di Mustafa Centre- don’t remind me about my first attempt not to shop- I simply cannot resist the urge when it comes to books and Mustafa- LoL
Mustafa ini ajaib banget. Bukan hanya dari namanya aja yang ‘ajaib’, tapi tempatnya juga. Bagaikan jin dalam botol- dari luar, pengunjung takkan menyangka bahwa toko serba ada yang kelihatannya biasa banget dan agak buluk ini (sekilas mirip Sarinah Thamrin deh) ternyata menyimpan ‘harta karun’ yang luar biasa bagi para bargain hunters- kayak saya gini, doyannya cari barang yang murmer- kalau bisa murah, dapet banyak, lebih bagus lagi, hehe.
Toserba ini berada di area Little India- Syed Alwi Rd- dan mayoritas pegawainya orang India. Ada sekitar 5 lantai (kayaknya 7 ditambah B1 dan B2)- dan buka 24 jam, non-stop. Kayak apotik, bedanya ini gak cuma jualan obat tapi semua barang- you name it- ada. Supermarket? Ada. Buku? Banyak. Jam- asli dan palsu? Ada. Parfum? Kosmetik? Elektronik? Keperluan olahraga? Baju (gak bermerek yaa tapinyaa..)? Barang2 rumah tangga? Semuaaaa adaaaaa…. bayangkan betapa ajaibnya toko ini… dan murmer, sumpe dehhh :-p Dan yang lucu, ada aja orang yang liat2 mesin cuci jam 2 pagi (saat kami berbelanja), anak2 balita dibawa ortunya belanja (anehnya kok gak ngantuk ya?) dan toko ini rame terus. Ibu2 sibuk dorong troli belanjaan penuh makanan dan sayur-mayur jam 2 pagi. Berasa bukan begadang malem2 deh

Akhirnya, akhir pekan yang menyenangkan ini ditutup dengan mengunjungi pusat perbelanjaan furnitur asal Swedia, Ikea. Pas terakhir kali ke Singapura, saya gak sempat mampir di toko yang ngetop dengan pernak-pernik interior minimalis dan modern ini. Jadi, sebelum ke bandara, kami menyempatkan diri (wajib hukumnya!) untuk mampir, dengan catatan (dan bersumpah) takkan tergoda untuk beli barang-barang yang bakal menyulitkan bawaan kami :-p Menyenangkan sekali melihat pernak-pernik interior yang lucu dan minimalis- kotak penyimpanan barang dari kardus tapi sekilas mirip kotak antik, seprai dan selimut warna-warni yang menggoda mata- dan akhirnya kami hanya bisa menelan ludah melihat lukisan2 modern yang keren banget untuk dipajang di ruang duduk namun bakal menyusahkan kalau kami tetap ngotot untuk membawanya. Nasib
Tapi toh, saya tetap tak bisa menahan godaan untuk menyambar selimut bergambar mata yang lucu mengintip di ujung, kotak organiser yang antik tadi (alih-alih mengambil satu, saya membeli dua), handuk warna-warni, wadah dari rotan yang bisa dilipat, spidol yang ujungnya bisa jadi stempel (mulai gak penting nih), bib (slabbertje bahasa belandanya atau tadah iler bahasa indon) warna ceria satu set untuk oleh-oleh, buku interior yang lucu dan inspiratif banget. Huaaaaa… kok jadi banyak yaaa

ada frozen food merek ABBA di Ikea… ada hubungan sama grup musiknya gak ya? (her)